Menurut penelitian dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (2025), media sosial bisa memicu perbandingan sosial yang berlebihan di kalangan remaja. Hasilnya, banyak yang jadi merasa kurang percaya diri.
Perbandingan sosial adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, baik dari segi penampilan, prestasi, atau kehidupan sehari-hari. Di media sosial, ini sering terjadi karena banyaknya unggahan yang terlihat “sempurna”.
Dilansir dari JSRET (Journal of Scientific Research, Education, and Technology), kombinasi antara perbandingan sosial dan penggunaan internet yang berlebihan dapat meningkatkan risiko kecemasan sosial pada remaja.
Kecemasan sosial adalah rasa takut berlebihan saat berada di lingkungan sosial atau saat berinteraksi dengan orang lain. Gejalanya bisa berupa gugup, berkeringat, hingga ingin menghindar dari keramaian.
Media sosial memperburuk situasi ini karena remaja cenderung hanya melihat sisi terbaik dari orang lain. Padahal, apa yang ditampilkan di layar sering kali tidak sepenuhnya nyata.
Banyak remaja merasa harus selalu tampil sempurna di media sosial, dan ketika tidak bisa, rasa minder mulai tumbuh.
Rasa minder ini, jika dibiarkan, bisa memicu pikiran negatif yang berulang. Akhirnya, remaja merasa dirinya tidak cukup baik dibanding teman-temannya.
Menurut psikolog, perasaan minder berlebihan dapat menurunkan harga diri (self-esteem) dan membuat remaja rentan terhadap masalah kesehatan mental lainnya.
Sayangnya, media sosial seperti “pisau bermata dua”. Di satu sisi, bisa membantu remaja terhubung dengan teman, tapi di sisi lain, bisa membuat mereka merasa terisolasi.
Beberapa penelitian juga menyebut bahwa semakin lama waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin tinggi tingkat kecemasan yang dirasakan remaja.
Fenomena ini dikenal sebagai efek “doom scrolling”, yaitu kebiasaan terus menerus menggulir layar meskipun membuat pikiran jadi buruk.
Psikolog merekomendasikan remaja untuk mengatur waktu penggunaan media sosial dan lebih banyak berinteraksi langsung di dunia nyata.
Baca Juga: Waspadai! Menurut Psikologi, Ini Tanda Lansia Merasa Kesepian Meski Tampak Ceria!
Selain itu, penting untuk mengembangkan pola pikir positif dan menerima bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Menerapkan kebiasaan “digital detox” atau rehat dari media sosial selama beberapa hari juga terbukti membantu kesehatan mental.
Orang tua juga perlu terlibat dengan memberikan dukungan emosional dan mengajarkan anaknya untuk melihat media sosial secara kritis.
Sekolah pun dapat memasukkan edukasi literasi digital agar remaja lebih paham risiko dan dampak media sosial terhadap psikologinya.
Dengan langkah yang tepat, media sosial bisa tetap digunakan tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Jadi, sebelum membandingkan diri dengan unggahan orang lain, ingatlah bahwa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan. (hand)
Editor : Priska Watung