Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Rasakan Tenangnya Pikiran dengan Menjalani Hidup Ringan Lewat Tren "Slow Living"

Priska Watung • Selasa, 19 Agustus 2025 | 07:03 WIB
Photo
Photo

GORONTALOPOST - Gaya hidup modern sering bikin orang merasa kejar-kejaran sama waktu. Dari pekerjaan, sekolah, sampai urusan pribadi, semua serba cepat. Akhirnya, banyak orang merasa capek terus.

Tapi sekarang ada tren baru bernama "Slow Living" yang mulai populer di kalangan anak muda. Konsep ini ngajarin kita untuk pelan-pelan, menikmati hidup, dan gak selalu buru-buru.

Slow living bukan berarti malas-malasan, tapi lebih ke memilih kualitas dibanding kuantitas. Jadi, daripada melakukan banyak hal sekaligus, fokus ke yang benar-benar penting.

Misalnya, saat makan, kita gak cuma buru-buru habisin makanan. Tapi benar-benar menikmati rasa, aroma, dan momen makan itu sendiri.

Di era gadget sekarang, slow living juga bisa berarti mengurangi waktu layar. Jadi, lebih banyak interaksi langsung dengan orang sekitar, atau sekadar menikmati alam.

Tren ini juga sering dikaitkan dengan kesehatan mental. Dengan hidup lebih pelan, stres bisa berkurang, karena pikiran gak terus-terusan dikejar deadline.

Banyak orang yang sudah mencoba slow living merasa tidur mereka lebih nyenyak. Soalnya, mereka gak lagi kepikiran sama hal-hal kecil yang bikin stres.

Contoh paling gampang slow living adalah journaling atau menulis diary harian. Dengan itu, kita bisa lebih sadar sama perasaan kita sendiri.

Baca Juga: Rumah Bukan Cuma Tempat Tinggal—Desain Emosional Bisa Bikin Kamu Tenang Setiap Hari!

Selain itu, slow living juga erat hubungannya sama minimalisme. Jadi, orang gak lagi beli barang cuma karena tren, tapi benar-benar mikir fungsinya.

Dengan barang lebih sedikit, hidup juga lebih ringan. Kita gak perlu ribet mikirin banyak hal yang sebenarnya gak terlalu penting.

Slow living juga bisa dilakukan lewat hobi. Misalnya berkebun, merajut, atau membaca buku. Semua aktivitas ini bikin kita lebih mindful.

Banyak influencer lifestyle sekarang yang share konten slow living. Biasanya mereka tunjukin rutinitas harian yang tenang, santai, dan penuh kesadaran.

Anak muda yang hidup di kota besar juga mulai melirik tren ini. Karena mereka butuh “ruang bernafas” di tengah kesibukan.

Slow living juga bisa membantu hubungan sosial. Dengan meluangkan waktu benar-benar hadir bersama teman atau keluarga, hubungan jadi lebih hangat.

Beberapa orang bahkan menerapkan slow travel. Artinya, kalau jalan-jalan, gak buru-buru pindah ke banyak tempat, tapi menikmati satu destinasi lebih dalam.

Tren ini sebenarnya bukan hal baru. Tapi sekarang makin relevan karena banyak orang merasa lelah dengan budaya hustle yang terlalu cepat.

Slow living bisa diterapkan sedikit demi sedikit. Misalnya mulai dengan bangun pagi tanpa langsung buka HP, atau makan tanpa sambil scroll media sosial.

Kuncinya adalah sadar bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling bisa menikmati perjalanan.

Kalau diterapkan konsisten, slow living bisa bikin hidup lebih bahagia, lebih damai, dan pastinya lebih sehat.

Jadi, meskipun dunia semakin cepat, bukan berarti kita harus ikut-ikutan. Kadang, melambat justru bikin kita lebih kuat.

(ra)

Editor : Priska Watung
#KesehatanMental #PsikologiLifestyle #Lifestyle #SelfCare #Mindfulness