Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans, Psikolog Minta Orang Tua Lebih Waspada

Nur Fadilah • Senin, 19 Januari 2026 | 11:54 WIB


Ilustrasi korban child grooming. (freepik)
Ilustrasi korban child grooming. (freepik)

GORONTALOPOST -Kasus child grooming yang diungkap oleh aktris Aurelie Moeremans lewat memoar Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah kembali menjadi perbincangan luas di Indonesia.

Dalam buku yang kini viral ini, Aurelie membuka pengalaman traumatisnya ketika masih berusia 15 tahun, yang berawal dari hubungan yang terlihat “normal” namun berujung pada manipulasi, kontrol, dan kekerasan oleh pihak dewasa. 

Dari kasus yang menyita perhatian publik, sejumlah psikolog dan pakar memberikan wawasan penting, terutama tentang risiko pacaran anak di bawah umur dan peran orang tua serta lingkungan dalam mencegahnya.

1. Grooming: Manipulasi yang Sering Tidak Terlihat

Pakar psikologi mengatakan bahwa child grooming pada dasarnya adalah proses manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk membangun kedekatan emosional dan kepercayaan terhadap anak atau remaja. Proses ini sering bermula secara perlahan, terlihat baik dan peduli, tetapi akhirnya bermuara pada kontrol dan eksploitasi. 

Sering kali, korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanfaatkan karena pelaku tampak meyakinkan, memberikan hadiah atau dukungan emosional yang seolah tulus. Karena itu, hubungan yang “terlihat normal” pun bisa menyembunyikan niat jahat pelaku. 

2. Dampak Berat Bagi Korban

Psikolog menekankan bahwa dampak child grooming tidak hanya bersifat fisik, tetapi terutama traumatis secara psikologis. Tanpa dukungan profesional, trauma ini bisa membekas sepanjang hidup, memengaruhi hubungan interpersonal, kepercayaan diri, dan kemampuan korban untuk merasa aman dalam hubungan.

Cerita Aurelie yang baru muncul kembali ke permukaan menunjukkan bagaimana pengalaman masa muda yang rusak bisa terus dibawa hingga dewasa jika tidak ada dukungan yang tepat sejak awal.

3. Bahaya “Pacaran” Anak dan Peran Lingkungan

Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang apa yang sering disebut “pacaran anak”. Ketika anak remaja mulai berinteraksi secara romantis dengan orang dewasa, ada banyak faktor risiko:

Psikolog menegaskan bahwa hubungan romantis pada usia dini tidak hanya soal cinta–cintaan, tetapi bisa menjadi pintu masuk bagi pelanggaran serius ketika tidak ada batasan yang jelas antara anak dan orang dewasa.

4. Peran Orang Tua dan Lingkungan

Untuk mencegah risiko tersebut, psikolog menekankan peran penting orang tua, guru, dan lingkungan sosial dalam:

Dukungan orang tua yang responsif dan komunikasi yang rutin membantu anak mengembangkan harga diri yang sehat yang pada gilirannya membuat mereka lebih kritis terhadap hubungan yang merugikan.

5. Perlunya Respons Serius dari Lembaga Perlindungan Anak

Isu ini tidak hanya menjadi persoalan individual. Anggota DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, bahkan mengangkat kasus Aurelie dalam rapat parlemen sebagai ujian serius terhadap sistem perlindungan anak di Indonesia. Ia menilai child grooming bukan sekadar tindakan individu, tetapi modis operandi yang sistematis yang harus ditangani dengan serius oleh negara dan lembaga terkait. 

Bahwa negara, organisasi perlindungan anak, dan masyarakat luas perlu lebih tegas dalam menindak kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa diskursus tentang pacaran anak tidak boleh dipandang remeh.

Insiden ini menjadi panggilan penting bagi kita semua untuk lebih memahami, mencegah, dan melindungi anak dari hubungan yang berbahaya bukan sekadar melabelinya sebagai fenomena biasa. (jpg)

 

Editor : Nur Fadilah
#child grooming #psikolog #aurelie maoeremans