Advetorial Artis Dan Hiburan Berita Daerah Berita Utama Cover Story COVID-19 Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Lifestyle & Teknologi Nasional Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Sport Teropong

Industri Gadget Tertekan Krisis Memori Global, Motorola Indonesia Ungkap Fakta

Nur Fadilah • Selasa, 21 April 2026 | 09:53 WIB
Ilustrasi - Moto G Stylus (2026). (ANTARA/Motorola)
Ilustrasi - Moto G Stylus (2026). (ANTARA/Motorola)

 
GORONTALOPOST
-Industri teknologi global tengah menghadapi tekanan besar akibat kelangkaan komponen memori yang dipicu lonjakan kebutuhan untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini pun mulai berdampak pada harga gawai di pasaran, termasuk di Indonesia.

Motorola Indonesia melalui Country Head-nya, Bagus Prasetyo, menyatakan bahwa fenomena krisis memori merupakan persoalan nyata yang tengah dirasakan hampir seluruh pelaku industri teknologi.

“Permasalahan ini memang real terjadi di pasar dan dihadapi oleh setiap brand di Indonesia,” ujar Bagus dalam keterangannya di Jakarta Selatan.

Meski demikian, Motorola memastikan bahwa dampak terhadap pasokan internal mereka masih relatif terkendali. Hal ini tak lepas dari dukungan induk usaha mereka, Lenovo, yang memiliki jaringan manufaktur dan rantai pasok komponen teknologi berskala global.

Sebagai perusahaan yang juga bergerak di sektor server, laptop, dan infrastruktur IT, Lenovo dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan komponen penting, termasuk memori. “Sejauh ini kami belum merasakan dampak langsung dari kekurangan pasokan,” jelas Bagus.

Namun, Motorola tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian harga produk di pasar. Hal ini disebabkan oleh perubahan prioritas industri global yang kini lebih memfokuskan pasokan komponen untuk kebutuhan AI.

Lonjakan pembangunan infrastruktur AI seperti pusat data dan server berkapasitas besar menyerap memori dalam jumlah masif. Dampaknya, ketersediaan komponen untuk perangkat konsumen seperti ponsel pintar, laptop, dan PC menjadi terbatas.

Laporan terbaru dari TrendForce menunjukkan bahwa tekanan biaya ini tidak hanya berpotensi mendorong kenaikan harga perangkat, tetapi juga dapat memaksa produsen menurunkan spesifikasi, khususnya pada segmen ponsel kelas menengah dan bawah.

Saat ini, komponen memori mengambil porsi yang semakin besar dalam total biaya produksi (Bill of Materials/BOM). Untuk menjaga harga tetap kompetitif, sejumlah produsen mulai mempertimbangkan strategi efisiensi, termasuk mengurangi kapasitas memori atau fitur tertentu.

Kondisi ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2026, seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap teknologi AI yang terus berkembang pesat.

Editor : Nur Fadilah
#harga hp #krisis memori #motorola