GORONTALOPOST - Suku Minahasa di Sulawesi Utara memiliki tradisi pemakaman kuno yang memadukan nilai budaya dan spiritual, yaitu Waruga, sebuah peninggalan zaman Megalitikum. Waruga bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga merefleksikan filosofi hidup yang mendalam. Tradisi ini kini menjadi warisan budaya yang kaya akan makna historis dan menjadi daya tarik wisata sejarah.
Waruga adalah kubur batu berbentuk kotak dengan penutup segitiga, tempat jenazah dimakamkan dalam posisi meringkuk seperti bayi dalam kandungan. Posisi ini melambangkan filosofi hidup masyarakat Minahasa, yaitu manusia kembali ke posisi awal kehidupannya saat meninggal. Tradisi ini dikenal dengan istilah "whom" dalam bahasa setempat. Selain itu, jenazah selalu diarahkan ke utara, sebagai penghormatan kepada nenek moyang suku Minahasa yang dipercaya berasal dari arah tersebut.
Keberadaan Waruga dapat ditemukan di Taman Purbakala Waruga Sawangan, yang terletak di Minahasa Utara. Di taman ini terdapat 143 Waruga dalam berbagai ukuran, dikelompokkan berdasarkan tingginya: kecil (0–100 cm), sedang (101–150 cm), dan besar (151–250 cm). Sebelumnya, kuburan Waruga tersebar di sekitar rumah warga hingga akhirnya pemerintah setempat memugar dan mengumpulkan situs-situs ini pada tahun 1977, menjadikannya sebuah kompleks sejarah yang terorganisir.
Ketika memasuki taman, pengunjung akan disambut relief-relief di dinding yang menggambarkan proses pembuatan hingga penggunaan Waruga. Meskipun terdapat ratusan Waruga, hanya 31 yang berhasil diidentifikasi secara lengkap. Hal ini menunjukkan tantangan pelestarian tradisi kuno di tengah perubahan zaman.
Sebagai peninggalan budaya Megalitikum, Waruga mencerminkan cara hidup, kepercayaan, dan pandangan masyarakat Minahasa tentang kehidupan dan kematian. Kini, Taman Purbakala Waruga Sawangan tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga pusat edukasi budaya yang mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga tradisi dan kearifan lokal. (Artha)
Editor : Priska Watung