Gorontalopost, BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melontarkan kritik tajam terhadap praktik pertambangan di Indonesia yang menurutnya justru tidak membawa kemajuan bagi daerah, melainkan menyisakan kerusakan lingkungan dan kemiskinan.
Baca Juga: Buku Prabowo Terbit di Rusia Jelang Pertemuan dengan Putin, Diapresiasi Akademisi dan Militer
Pernyataan itu ia sampaikan melalui akun Instagram resminya, merespons sorotan terhadap aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat, Papua Barat Daya—wilayah yang selama ini dikenal sebagai surga biodiversitas dunia.
“Banyak yang berpikir tambang itu membawa kesejahteraan. Tapi yang saya lihat, di daerah-daerah tambang, tidak ada kemajuan dan tidak ada kemakmuran,” ujar Dedi, yang dikenal vokal dalam isu-isu lingkungan dan sosial.
Meski izin usaha pertambangan (IUP) dari empat perusahaan swasta di wilayah itu telah dicabut, satu perusahaan tambang anak usaha BUMN PT Antam, yakni PT Gag Nikel masih beroperasi hingga saat ini.
Dedi menegaskan, pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pertambangan justru melahirkan kemiskinan sistemik dan merusak ekosistem yang seharusnya diwariskan ke generasi mendatang.
“Rakyat tidak dapat apa- apa. Yang menikmati hanya segelintir elite. Ini adalah bentuk nyata dari apa yang disebut ‘kutukan sumber daya alam’,” tambahnya.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Memanas, Siaga 1 TNI Siapkan Evakuasi 578 WNI Lewat Jalur Darat
Istilah "kutukan sumber daya" mengacu pada paradoks di mana negara atau daerah yang kaya sumber daya justru mengalami stagnasi ekonomi, konflik sosial, dan korupsi karena eksploitasi tanpa kontrol.
Dedi juga mengingatkan bahwa sejumlah negara yang dulu berjaya karena hasil tambangnya kini menanggung dampak panjang eksploitasi yang tak berkelanjutan, mulai dari kehancuran lingkungan hingga ketimpangan sosial.
“Kalau kita tidak belajar dari pengalaman negara- negara itu, maka kita akan mengulangi kesalahan yang sama. Alam rusak, masyarakat tetap miskin,” tutupnya.
Berikut deretan negara yang memiliki "kutukan" sumber daya usai menukar kekayaan alamnya dengan aktivitas pertambangan.
*Zimbabwe
Pada tahun 2000, Zimbabwe memunculkan keajaiban yang merupakan suatu harapan baru yakni adanya penemuan berlian di Marange.
Namun harapan tersebut pupus karena masuknya tambang-tambang berlian dan dikuasai elite politik dan militer secara tertutup. Alih-alih membawa kemakmuran, berlian malah memperkuat rezim otoriter.
Sejak 2010, negara ini mengekspor berlian lebih dari USD2,5 miliar, tapi hanya sekitar USD300 juta yang tercatat masuk ke kas publik. Sisanya diduga mengalir ke jaringan
rahasia penguasa dan lembaga represif.
*Nigeria
Sumber kekayaan yang dimiliki Nigeria yakni limpahan minyak bumi.
Dampaknya, ribuan tumpahan minyak mengakibatkan kerusakan besar ekosistem mangrove, pertanian, dan mata pencaharian lokal.
Korupsi besar-besaran mencapai miliaran Dolar Amerika Serikat hilang lewat pencurian dan hibah politik .
Konflik bersenjata dan gerakan milisi (MEND) sebagai respons terhadap ketidakadilan ekonomi dan lingkungan.
*Venezuela
Salah satu negara yang pernah diklaim terkaya di Amerika Latin yakni Venezuela, sumber kekayaan yang diagungkan karena cadangan minyak terbesar di dunia.
Dampak terbesar yang diakibatkan dari kekayaan alami ini ialah adanya ketergantungan ekstrim pada ekspor minyak ekonomi rapuh saat harga turun .
Ditambah tindakan korupsi yang merajalela, krisis ekonomi, politik inflasi tinggi, dan kelangkaan bahan pokok.
Di tengah krisis, pemerintah malah memerintahkan eksploitasi wilayah sengketa Essequibo demi pemasukan baru, langkah ini menimbulkan ketegangan politik hingga memperkuat rezim otoriter.
*Republik Demokratik Kongo (DRC)
Sumber kekayaan yang dimiliki oleh Republik Demokratik Kongo di antaranya adalah kobalt, tembaga, berlian, emas, dan lainnya.
Dampaknya, meskipun kaya sumber daya alam, DRC tetap jadi salah satu negara termiskin di dunia. Hal ini dipicu dari penambangan kontroli militan bukannya memberikan kesejahteraan yang menjanjikan,
Melainkan memicu adanya kerja paksa, buruh anak, pelanggaran HAM, hingga infrastruktur lemah dan terjadinya deforestasi besar-besaran.
*Angola
Sekitar 1,3 juta penambang liar terlibat dalam penambangan ilegal yang merusak lingkungan, menggerogoti pendapatan negara, dan memicu kekerasan.
Kejadian tersebut berawal dari kekayaaan negara Angola yakni berlian dan minyak, tapi kekayaan itu justru memicu konflik daripada kesejahteraan.
Adapun sumber kekayaan, Minyak dan gas (±75 % pendapatan negara). Namun dampaknya, ekonomi sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak.
Korupsi dan pilihan investasi yang terpusat pada sektor minyak, bukan pada pembangunan berkelanjutan.
*Guyana
Salah satu, sumber kekayaan yang dimiliki Guyana yakni minyak. Namun kekayaan ini memberikan dampak potensial.
Sebagaimana menjadi suatu kekhawatiran akan “petrostat” baru, seperti korupsi, ketidakadilan distribusi pendapatan, dan harga hidup melambung
Dengan demikian, pemerintah tengah berusaha mencegah dampak negatif namun tantangannya besar.
*Republik Demokratik Kongo
Republik Demokratik Kongo memiliki tanah yang kaya kobalt, tembaga, dan berlian. Penambangan besar-besaran dilakukan demi memenuhi kebutuhan baterai gawai dan
kendaraan listrik perusahaan ternama di dunia.
Tapi eksploitasi membawa penggusuran, kerusakan lingkungan, hingga pelanggaran HAM.
Baca Juga: Wali Kota Gorontalo Surati Presiden Soal Dugaan Intervensi TNI dalam Kasus Mie Gacoan
Ironisnya, hasil dari pertambangan hanya dinikmati segelintir keluarga kaya. Sementara
jutaan orang lainnya hidup dalam kemiskinan dan konflik.
*Papua Nugini
Sumber kekayaan yang dimiliki Papua Nugini, adalah tembaga dan emas yang seharusnya menjadi sumber penghasilan serta kejayaan.
Namun, dampaknya justru dirasakan sejak tahun 1984, pembuangan limbah tambang secara langsung ke sungai hingga mencapai ribuan kilometer, ekosistem rusak, penduduk kehilangan mata pencaharian.
*Nauru
Nauru pernah jadi negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia pada 1970-an, berkat ekspor fosfat.
Tapi ekspor besar-besaran membuat 90 persen daratan rusak dan kini jadi gurun tandus. Pemerintah yang korup dan tidak kompeten membuat kekayaan Nauru bangkrut.
Fosfatnya, memperkaya Australia, sementara warganya hidup dari bantuan asing. Warga yang tadinya kaya kini bergantung pada makanan instan, dan menyebabkan epidemi obesitas ekstrem.(*)
Editor : Azis Manansang