GORONTALOPOST- Dalam dunia vulkanologi, setiap negara menerapkan sistem peringatan yang berbeda-beda untuk mengkategorikan tingkat aktivitas gunung berapi. Misalnya, Rusia menggunakan sistem peringatan berupa kode warna yang mencerminkan tingkat bahaya, sementara Indonesia mengadopsi sistem peringatan yang lebih terperinci, mulai dari status "aktif normal" hingga "awas", sesuai dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 15 Tahun 2011 tentang Pedoman Mitigasi Bencana Gunung api.
Menurut Permen ESDM tersebut, aktivitas gunung berapi dapat diklasifikasikan ke dalam empat tingkat status yang mencerminkan kondisi dan potensi bahaya vulkanik sebuah gunung api. Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai setiap tingkat status:
Level I Aktif Normal:
Status ini menunjukkan bahwa tidak ada perubahan aktivitas yang mencolok secara visual, atau kejadian vulkanik pada gunung api yang diamati. Hal ini menandakan bahwa tidak ada tanda-tanda letusan dalam kurun waktu tertentu. Pengamatan visual, data seismik, dan gejala vulkanik lainnya menunjukkan bahwa kegiatan gunung berapi tersebut berada dalam kondisi yang normal.
Level II Waspada:
Status waspada menandakan adanya peningkatan aktivitas seismik dan munculnya kejadian vulkanik yang menonjol. Perubahan visual di sekitar kawah mulai terlihat, dan gangguan magmatik, tektonik, atau hidrotermal mulai terjadi. Meskipun demikian, tidak ada indikasi pasti akan terjadi letusan dalam waktu dekat.
Level III Siaga:
Pada status siaga, terjadi peningkatan aktivitas seismik yang signifikan, didukung oleh pemantauan vulkanik lainnya. Perubahan visual dan aktivitas kawah menjadi lebih jelas terlihat. Berdasarkan analisis data observasi, diperkirakan terjadi letusan utama dalam waktu yang relatif dekat, biasanya dalam kurun dua pekan.
Level IV Awas:
Status awas menandakan kondisi yang sangat berpotensi terjadinya erupsi besar. Biasanya, status ini diumumkan setelah terjadi letusan utama yang diikuti dengan semburan abu dan uap. Dalam kondisi ini, kemungkinan terjadinya erupsi besar sangat tinggi, dan erupsi tersebut diperkirakan akan terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam.
Editor : Priska Watung