Gorontalopost, MARISA – Puluhan orang tua siswa menolak tegas rencana pemindahan sekolah maupun relokasi anak-anak mereka yang terdampak aktivitas pertambangan emas Pani Gold Project (PGP).
Ketegangan ini terjadi saat dialog antara warga, pemuda, dan pemerintah daerah di SDN 04 Buntulia, Kecamatan Buntulia, belum lama ini.
Di hadapan Bupati Pohuwato, Saipul Mbuinga, bersama pimpinan DPRD, warga menyuarakan keresahan mereka.
Aktivitas tambang yang berdekatan dengan sekolah dinilai sudah mengganggu kenyamanan
belajar.
Suara bising alat berat membuat siswa sulit berkonsentrasi, sementara debu yang beterbangan menimbulkan ancaman kesehatan.
“Kami tidak mau anak-anak kami dipindahkan. Ini sekolah sudah dekat dari rumah, kalau
dipindahkan justru menyusahkan.
Yang kami minta adalah perlindungan, bukan pengorbanan,” tegas salah satu orang tua siswa.
Keluhan itu juga diperkuat para pemuda Hulawa. Mereka menilai pemerintah daerah sejak
awal terkesan abai terhadap dampak tambang yang kini benar-benar dirasakan.
“Dulu sudah kami sampaikan lewat aksi dan protes, bahwa masuknya tambang akan
merugikan warga.
Baca Juga: Drama Kejar-kejaran di Gorontalo, Polisi Ringkus 5 Pengedar, 20 Paket Sabu Disita
Tapi saat itu pemerintah hanya diam. Sekarang buktinya jelas, sekolah dan anak-anak jadi korban,” ucap seorang perwakilan pemuda.
Lebih jauh, pemuda Hulawa menuding persoalan ini bermula dari alih fungsi hutan desa
yang dijual untuk kepentingan investasi.
Hal itu dinilai menjadi akar masalah yang membuat lingkungan sekitar sekolah rusak.
Menanggapi aspirasi warga, Bupati Saipul Mbuinga menegaskan bahwa pihaknya datang
bukan untuk mengumumkan relokasi, melainkan untuk mendengar langsung keluhan
masyarakat.
“Saya hadir di sini justru untuk menghimpun masukan. Semua aspirasi ini akan dibahas
bersama DPRD agar bisa ditemukan solusi terbaik,” ujarnya.
Namun ketika ditanya soal tudingan pemuda terkait alihfungsi hutan desa Hulawa, Saipul
memilih tidak memberikan komentar mendalam.
“Saya baru mendengar soal itu dari warga, jadi saya tidak bisa merespons lebih jauh,”
katanya singkat.
Hingga kini, konflik proyek tambang emas PGP masih menjadi sorotan di Pohuwato.
Disatu sisi, warga menuntut perlindungan dan hak pendidikan anak-anak mereka, sementara di sisi lain, pemerintah dituntut mencari solusi di tengah desakan investasi.(Mg-08/Hen).
Editor : Azis Manansang