Gorontalopost, LIMBOTO – Kepemimpinan sejati tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari proses panjang yang ditempa waktu dan karakter.
Pada diri Sofyan Puhi, benih itu sudah terlihat sejak 1976, ketika ia masih menjadi siswa
di Sekolah Teknik Negeri (STN) Telaga, jauh sebelum namanya dikenal dalam dinamika politik Gorontalo.
Baca Juga: Gubernur Apresiasi Kinerja Kabupaten Pohuwato. Ekonomi Tumbuh 9,8 Persen Meski Fiskal Terbatas
Kesaksian itu datang dari Suparman Kai, guru yang pertama kali mengajar Sofyan di STN Telaga.
Ia mengingat sosok murid yang santun, cerdas,
dan menunjukkan rasa hormat yang tulus kepada guru maupun teman.
“Sejak awal sudah tampak memiliki pembawaan berbeda. Sopan dan tidak pernah dibuat-buat,” kenangnya.
Kemampuan akademik Sofyan juga menonjol, khususnya dalam aljabar, ilmu alam,
dan ilmu ukur bidang yang menuntut ketelitian serta daya analisis kuat.
Menurut Suparman, kecerdasan itu dibarengi kesungguhan belajar.
“Ia bukan hanya cepat menangkap pelajaran, tetapi juga konsisten menjaga prestasi,” ujarnya.
Baca Juga: HUT ke-23, Kabupaten Pohuwato Catat Lompatan Ekonomi 7,16 Persen dan Investasi Rp 4,15 Triliun
Pertemuan kembali terjadi ketika Sofyan menjabat Wakil Bupati Gorontalo mendampingi almarhum David Bobihoe.
Dalam momen itu, justru Sofyan yang lebih dulu menyapa gurunya dengan penuh hormat.
Sikap tersebut menjadi bukti bahwa karakter rendah hati tetap terjaga meski jabatan telah berubah.
Bagi Suparman, itulah esensi kepemimpinan yang sesungguhnya: konsistensi sikap sejak muda hingga dewasa.
Di tengah era pencitraan politik yang serba cepat, perjalanan Sofyan Puhi menjadi contoh
bahwa fondasi karakter yang kuat adalah modal utama menuju kepemimpinan yang berkelanjutan. (Mg-04)
Editor : Azis Manansang